Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin
dalam tubuh berada di bawah normal, sehingga kemampuan darah membawa oksigen
ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh
mudah lelah, lemas, dan kurang berenergi dalam beraktivitas sehari-hari.
Gejala umum anemia meliputi mudah lelah, pusing, wajah dan kulit terlihat
pucat, jantung berdebar, sesak napas saat beraktivitas ringan, sulit
berkonsentrasi, serta kuku dan rambut yang mudah rapuh. Jika gejala ini
sering muncul, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kelompok yang lebih berisiko mengalami anemia antara lain remaja putri
(karena menstruasi rutin), ibu hamil dan menyusui, anak-anak dalam masa
pertumbuhan, orang dengan pola makan vegetarian/vegan, serta penderita
penyakit kronis atau gangguan penyerapan zat besi.
Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan kaya zat besi seperti
daging merah, hati, telur, sayuran hijau, dan kacang-kacangan, serta
mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) sesuai anjuran tenaga kesehatan,
terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti remaja putri dan ibu hamil.
Segera periksakan diri ke dokter apabila Anda sering merasa sangat lelah,
pusing berkepanjangan, sesak napas meski beraktivitas ringan, jantung
berdebar tanpa sebab jelas, atau pernah pingsan. Pemeriksaan kadar
hemoglobin (Hb) diperlukan untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang
tepat.
Ya, anemia pada orang dewasa dan remaja pada dasarnya memiliki mekanisme yang sama,
yaitu kadar hemoglobin (Hb) tidak mencukupi kebutuhan tubuh, tetapi penyebab, kebutuhan
zat gizi, faktor risiko, dan batas diagnosisnya dapat berbeda. Anemia pada remaja dan
dewasa sama-sama memerlukan perhatian terhadap asupan zat besi dan gizi seimbang, tetapi
remaja khususnya remaja putri memiliki kebutuhan dan risiko khusus karena pertumbuhan
serta menstruasi.
Anemia dapat memengaruhi pertumbuhan remaja karena kekurangan zat besi menyebabkan
berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Padahal, pada
masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang cepat dan membutuhkan oksigen serta zat gizi
yang cukup. Masa remaja adalah periode growth spurt atau pertumbuhan cepat. Jika anemia
terjadi terutama akibat kekurangan zat besi, tubuh tidak memperoleh dukungan oksigen dan
zat besi yang optimal sehingga pertumbuhan fisik, perkembangan, energi, dan fungsi
kognitif dapat terganggu.
Ya. Wanita dalam usia produktif kehilangan zat besi secara rutin
setiap siklus menstruasi, terlebih jika volume darah haid tergolong
banyak atau berlangsung lama. Ditambah kebutuhan zat besi yang meningkat
saat hamil dan menyusui, kelompok ini termasuk yang paling perlu memantau
asupan zat besi dan memeriksakan kadar Hb secara berkala.
Bisa. Karena pria tidak kehilangan zat besi lewat menstruasi,
anemia pada kelompok ini lebih sering dikaitkan dengan pola makan yang
kurang bervariasi, perdarahan yang tidak disadari (misalnya pada saluran
pencernaan), efek samping obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol
berlebihan, atau penyakit kronis. Karena penyebabnya bisa lebih beragam,
anemia pada pria sering perlu ditelusuri lebih lanjut oleh tenaga
medis.
Idealnya, remaja putri dan putra sudah mulai rutin memantau kadar hemoglobin
(Hb) sejak memasuki masa praremaja dan remaja, setidaknya satu kali dalam setahun
saat pemeriksaan kesehatan rutin. Namun bagi kelompok berisiko lebih tinggi — seperti
remaja putri yang sudah mulai menstruasi, remaja dengan riwayat anemia di keluarga,
atau remaja yang mengalami gangguan makan atau penyakit kronis — pemeriksaan
sebaiknya dilakukan lebih sering sesuai anjuran dokter, dan segera diperiksa lebih
awal bila gejala seperti mudah lelah, pucat, atau sesak napas mulai dirasakan.
Program Tablet Tambah Darah (TTD) yang dijalankan di sekolah juga merupakan salah satu
bentuk pemantauan berkala yang penting untuk diikuti.
Tergantung penyebab dan keparahannya. Anemia akibat kekurangan zat besi pada remaja bisa
membaik dengan perbaikan pola makan dan suplementasi zat besi sesuai anjuran tenaga
kesehatan, biasanya dalam hitungan minggu hingga bulan.
Namun, jika anemia disebabkan oleh kondisi medis lain (misalnya penyakit kronis atau
gangguan penyerapan), penanganannya perlu mengatasi penyebab dasarnya terlebih dahulu
agar hasilnya bertahan lama.
Tablet tambah darah sebaiknya diminum dengan air putih, bukan dengan teh, kopi, atau
susu,
karena kandungan tanin dan kalsium di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi.
Minum bersama makanan atau minuman yang mengandung vitamin C, seperti jus jeruk, justru
dapat membantu penyerapannya lebih optimal. Konsumsi sesuai dosis dan jadwal yang
dianjurkan tenaga kesehatan — umumnya satu tablet per minggu untuk remaja putri, dan
satu
tablet per hari selama kehamilan bagi ibu hamil. Efek samping ringan seperti mual atau
BAB
berwarna gelap adalah hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.